terkini


Buntut Bentrok PP vs FKPPI, Wadan KOTI PP Deli Serdang Tewas Ditembak di Atas Yaris, Kombes Cornelius, "Kami Tindak Tegas Ormas Yang Melanggar Hukum."

, Oktober 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-23T04:12:21Z

Keterangan Photo : Ditreskrimum Polda Sumut Gelar Pers Rilis Tewasnya Wadan KOTI Pemuda Pancasila Kabupaten Deli Serdang, Doni Pa'cek, Kamis (22/10/2026) di Mapolda Sumut. 


SUMUTBRANTAS.COM-MEDAN-
Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut berhasil mengungkap kasus penembakan yang menewaskan Wakil Komandan Komando Inti (Wadan KOTI) Pemuda Pancasila Kabupaten Deli Serdang, Doni Pa'cek.


Dirreskrimum Polda Sumut, Kombes Pol Cornelius Mangarahon Simanjuntak, menjelaskan kasus ini berawal dari aksi penyerangan di rumah seorang anggota Pemuda Pancasila bernama Feri, di Jalan Bandar Labuhan, Komplek Puskop ABRI, Desa Bandar Labuhan, Kec. Tanjung Morawa, Kab. Deli Serdang, pada Minggu (18/10/2026) sekira pukul 18.00 WIB.


Terduga pelaku penyerangan berasal dari kelompok Doni Kiboy yang diduga berafiliasi dengan ormas Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI).


Tak terima, Feri kemudian mengirimkan pesan ke grup WhatsApp Komando Inti Pemuda Pancasila (KOTI PP) Kabupaten Deli Serdang.


Mendapat laporan tersebut, Doni Pa'cek bersama rombongan langsung bergerak menuju rumah Feri untuk melakukan serangan balasan. Doni Pa'cek mengendarai mobil Toyota Yaris dengan formasi: Doni menyetir, Indra Wijaya di kursi penumpang depan, serta Juanda, Muhammad Dio, dan Muhammad Hatta di kursi belakang. Di belakang mobil tersebut, dikuti konvoi 8 sepeda motor anggota Pemuda Pancasila dengan membawa senjata tajam dan senapan angin rakitan.


Direncanakan di Atas Motor. 


Di tengah perjalanan, konvoi tersebut disalip oleh dua tersangka, Dwika Anggara Cipta alias DAC yang mengendarai motor dan Afriandi Anas Limbong alias AAL yang dibonceng.


"Hasil pemeriksaan, di perjalanan kedua tersangka sudah berencana menembak korban," ungkap Kombes Cornelius, Kamis (22/10/2026).


Di atas motor, Dwika menyampaikan kepada Afriandi bahwa ia membawa pistol yang sudah dikokang di pinggangnya. Dwika kemudian meminta Afriandi untuk mengeksekusi Doni Pa'cek saat sudah dekat dengan mobil korban.


"'Ini ada senjata api, nanti tolong tembak'," ujar Kombes Cornelius menirukan ucapan tersangka.


Saat konvoi melaju dengan kecepatan 30-40 Km/jam dengan kondisi kaca mobil terbuka, kedua tersangka menyalip dan Afriandi langsung menarik pistol dari pinggang Dwika dan menembakkannya ke arah Doni Pa'cek.


Peluru menembus telinga kanan hingga leher Doni Pa'cek dan bersarang di paha Indra Wijaya yang duduk di sampingnya.


Senjata Meletus Sendiri, Eksekutor Tertembak. 


Usai menembak, kedua tersangka berusaha kabur. Sementara itu, Doni Pa'cek kejang-kejang di dalam mobil dan kemudi diambil alih oleh Indra Wijaya.


Drama berlanjut. Saat berusaha mengembalikan pistol ke pinggang Dwika, senjata tersebut meletus dan mengenai paha kanan Afriandi. Di tengah pelarian, motor mereka juga ditabrak oleh mobil rombongan Doni Pa'cek.


"Menjelang jatuh, ketika AAL hendak mengembalikan senpi ke pinggang DAC, senjata tersebut meletus dan mengenai paha kanan AAL. Saat terjatuh, senjata yang masih dipegang meletus kembali dan mengenai punggung DAC. Kedua pelaku kemudian melarikan diri ke semak-semak dan kebun sawit," jelas Kombes Cornelius.


Rekan Korban Ikut Ditangkap. 


Selain menangkap dua eksekutor, Ditreskrimum Polda Sumut juga mengamankan empat rekan Doni Pa'cek yang berada satu mobil saat kejadian, yakni Muhammad Hatta (44), Muhammad Dio Alfareza Lingga (21), Juanda (39), dan Indra Wijaya Lingga (23).


Keempatnya diamankan terkait kepemilikan senjata tajam dan senapan angin rakitan yang disiapkan untuk serangan balasan.


"Nah, mereka sudah mempersiapkan peralatan-peralatan senapan angin rakitan dan senjata tajam untuk melakukan serangan balik kepada kelompok Doni Kiboy tadi," tegasnya.


Kombes Cornelius menegaskan, kematian Doni Pa'cek merupakan buntut perselisihan antar organisasi kemasyarakatan. Ia mengimbau seluruh ormas untuk menahan diri dan memberi ultimatum keras.


"Kami menyampaikan bahwa Polda Sumut bertindak tegas, memberantas setiap aksi premanisme dan tindakan ormas yang melanggar hukum," pungkas Alumni Akpol 1994 tersebut. (FJ). 



Editor : Eka Ratna Dilla SH. 



Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Buntut Bentrok PP vs FKPPI, Wadan KOTI PP Deli Serdang Tewas Ditembak di Atas Yaris, Kombes Cornelius, "Kami Tindak Tegas Ormas Yang Melanggar Hukum."

Terkini